Rabu, 08 Februari 2012

Tanggung jawab dan komitmen

Dear ...., Aku ga tahu harus disini dengan nama siapa....hehehehe Beberapa waktu lalu aku dikirim link video yang bagus sekali. Intinya bahwa semua orang tidak sempurna tetapi ketidak sempurnaan mereka justru membuat orang yang kita sayangi menjadi sempurna buat kita. Aku ga tahu apa yang terjadi 2-3 hari ini tetapi tadi pagi dia pergi lagi. Meski balik hari tetapi tetap saja membuatku kecewa. Sepertinya aku pernah menulis di blog-ku, entah yang mana, bahwa jika kita ingin mengingat atau merasakan bagaimana perasaan kita ke orang yang kita kasihi coba tatap wajah mereka saat mereka sedang tidur. Aku sudah berkomitmen hampir 8 tahun lalu dan aku juga berkomitmen ke NLK beberapa bulan lalu dan jika aku sudah berkomitmen aku berusaha sekuatku dengan segala halangan yang akan ada untuk tetap menjaga komitmenku. Kedua mahluk sebaya yang kucintai juga tidak sempurna. Tidak ada yang sempurna tetapi jika aku melihat lagi video itu aku setuju bahwa ketidaksempurnaan mereka yang akan tetap kuingat bahkan aku rindukan. Aku akan 'menikmati' perjalanan komitmenku dengan makin 'silent', banyak mendengar dan bersandiwara. Plus sabar tentunya. Jadi untuk mereka, orang-orang yang kucintai dan kusayangi, aku akan mulai banyak mendengar, diam dan tetap bersabar meski itu bakal 'memakan' aku.

Jumat, 20 Januari 2012

Jakarta, 10 Jan 2012, 09:45. Duduk dipojok sebuah resto fast food di Senayan, memandang gedung Senayan City dipagi yang mendung mengingatkanku kepada suasana beberapa tahun yang lalu saat aku sedang mengambil master. Sepi. Terasing. Lamunanku terputus saat kenalanku datang. Kita akan mengadakan meeting mengenai produk interior dan ternyata beliau dalam usia yang relatif muda sudah memegang posisi yang tinggi. Jika tidak berniat mengurus perusahaan interiorku dan membangun aset aku tidak akan mau melakukan meeting di pagi ini dan di tempat asing ini. Semalam baru aku menyadari tidak ada harganya seorang diriku dimatanya. Seharusnya aku atur untuk membicarakan dengan beliau tapi aku berubah pikiran. Aku tetapkan untuk menambah satu orang ke dalam list ku. Daftar orang yang didepan mereka aku bersandiwara. Aku tersenyum saat menulis ini. Yup, kurasa itu yang terbaik saat ini. Berlaku seakan tidak terjadi apa-apa. Lagipula beliau tidak berharga buatku untuk aku menjadi fed up. Bye
Jakarta, Sabtu, 7 Jan 2012. Saat aku sedang menunggu temanku di kantin YTKI Sabtu siang, iseng-iseng aku melihat BB ku dan aku melihat updated propic salah satu temanku saat di Labs. Statusnya : emergency room. Dlm propic beliau terlihat foto beliau yg sedang menggendong anaknya dng latar belakang tulisan emergency di pintu. Sang anak tampak tenang tertidur tp perhatianku lebih ke arah wajah ayahnya. Wajah khawatir. Jika aku ingat seperti apa wajah beliau saat sma dulu kira2 21 thn yg lalu sangat berbeda. Tidak bs kubayangkan akan timbul pada wajahnya wajah seorang ayah yg sangat khawatir dng anaknya. Wajah beliau mengingatkanku jg dng wajah temen sma ku juga saat aku melihat beliau saat aku sedang mengurus surat kesehatan di salah satu klinik di Kuningan. Wajah seorang ayah. Tidak ada lagi wajah anak remaja yg konyol dan nakal. Diganti wajah yg 'tenang', wajah seorang ayah. Semoga cepet sembuh anakmu, Bro. Ini doa dr seorang ayah ke ayah yg lain.

Selasa, 04 Oktober 2011

Jakarta, lantai 53, 5 oktober 2011, 7:49 wib Kemarin sore akhirnya aku memutuskan untuk berbicara ke HRD Manager. Aku membicarakan soal rencana pengunduran diriku bulan Desember besok. Beliau adalah orang kedua di perusahaan ini yang sudah tahu rencana pengunduran diriku. Ada beberapa informasi yang menarik selama diskusi kami, salah satu diantaranya adalah tahun depan beliau juga akan pensiun dan anaknya masih bersekolah di SMP. Hal lain adalah pandangan beliau mengenai perusahaan ini yang sama denganku. Hampir delapan tahun aku bekerja disini. Waktu yang relatif lama tapi terasa singkat. Sudah waktuya aku memikirkan masa depanku dan keluargaku. Meski aku tahu keluargaku beum bisa menerima jika aku tidak menjadi karyawan lagi. Satu hal lagi, aku melihat sisi Pak Eri yang belum aku lihat. Aku rasa suatu saat nanti aku akan mengajak diskusi.

Selasa, 27 Juli 2010

Lembur??

Jakarta, 21 Jul 2010, 18:36

Kantor, 53

Ada kebiasaan baru di aku yang sepertinya sudah berlangsung sejak awal tahun ini. Lembur di kantor tapi bukan karena niat untuk lembur. Masih bingung? Aku akan coba cerita sedikit.

Pertama akan aku ceritakan bagaimana keadaan di rumah. Yah, sebenarnya, sih, belum bisa disebut rumah. Menurut pendapatku itu lebih tepat disebut kamar kos atau apartment tipe studio. Di lantai bawah berkumpul meja dapur, tanpa lemari dapur sehingga istriku meletakkan bumbu dapur dan plastik pembungkus dibawahnya, satu buah kulkas, satu piano kecil, satu aquarium kecil, meja komputer desktop dan komputernya dan disampingnya ada printer Epson kecil dan scanner, lalu ada TV tabung kaca 29 inch yang diletakkan diatas box kayu, lemari pakaian besar dan satu lemari buku kesar, dan disana sini ada beberaa tumpukan mainan anak gadis kecilku dan yang terakhir adalah kamar mandi plus WC. Terbayang suasana kos, bukan? Semua tumplek menjadi satu.

Sedangkan dilantai atas adalah kamar tidur, tapi di pojok ada dua lemari pakaian kecil yang diatasnya ada tumpukan dus yang berisikan pakaian, didekat TV 14 inch yang diletakkan diatas meja ada meja belajar yang diatasnya ada tumpukan dus kamera SLR, notebook dan tas ransel, lalu ada kursi sofa kecil, satu buah springbed ukuran 1.8 x 1.6 meter tanpa base dan satu buah tempat tidur ukuran 1.8 x 1 m. Yah, aku sadar juga jika kamar tidur kami bertiga juga tidak jauh berbeda suasananya dengan yang dilantai bawah. Kos.

Rumah yang kami tempati ini dahulunya adalah paviliun saat aku masih bujangan dan aku sudah menempatinya selama 13 tahun. Saat itu belum ada meja dapur. Dan saat itu aku bisa menikmati kesendirianku. Aku suka termenung. Bukan melamun, tapi kadang aku butuh sendiri untuk berpikir. Jika saat bujangan aku berpikir soal kenapa aku bisa hancur hubunganku dengan si 'dia', sedangkan saat ini aku kadang ingin sendiri untuk memikirkan masa depan kami bertiga.

Bukannya aku tidak sayang dengan mereka. Aku sayang sekali, tapi jika aku langsung pulang ke rumah setelah jam kantor usai aku tidak bisa berpikir atau merencanakan langkah apa selanjutnya, bahkan aku sama sekali tidak bisa bekerja jika sudah di rumah.

Tahu sendiri, kan, hari gini jika masih mengandalkan gaji kantor dan tidak mempersiapkan dana untuk masa pensiun sama saja dengan bunuh diri di kemudian hari.

Jadi ceritanya aku sudah ada usaha. Tapi namanya juga usaha mandiri, ya, aku harus kudu musti melakukannya dengan niat yang kuat. Dan itu saja tidak cukup tentunya.

Di lantai 53 ini aku suka suasananya jika sudah jam pulang kantor seperti ini apalagi setelah jam 6 sore. Sepi. Tenang. Membuatku bisa berpikir tenang untuk melakukan rencana ke depan. Apa goal-ku untuk minggu depan. Bertemu dengan siapa saja dalam seminggu kedepan atau merencakakan untuk melakukan pembelian barang apa saja.

Jika di rumah? Aku akan tergoda untuk bermain dengan anakku atau malah yang terparah dan paling sering aku lakukan adalah aku malah melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, yaitu nonton TV atau DVD atau malah tidur.

Jadi aku bisa klaim lemburan padahal aku tidak mengerjakan urusan kantor? Tidak juga. Di posisiku yang sekarang aku tidak bisa mendapatkan uang lembur lagi dan lagipula aku masih mengerjakan urusan kantorku saat ini. Ya, maksudku, sampai sebelum aku menulis tulisan ini.

Sebenarnya aku sedang jenuh dan aku tidak ingin langsung pulang ke rumah. Sebab di rumah tidak ada tempat yang bisa aku jadikan tempatku untuk termenung. Semua tempat terbuka di rumahku, hanya kamar mandi saya yang ada pintunya. Apa aku harus termenung di dalam sana?

Setelah jam pulang kantor tadi aku sempat memainkan beberapa kali video klip Mocca, Hanya Satu, original sound track Untuk Rena. Aku jadi teringat gadis kecilku yang senguin kolerik. Kemarin dia dengan koleriknya memaksa untuk makan kripik singkong pedas dan es krim dan tadi pagi baru kami sadari bahwa beliau ini demam. Ternyata kena diare. Tadi sudah diantar ke dokter oleh mamanya dan menurut istriku si Nola Nola sudah berkurang demamnya. Alhamdullilah.

Aku pasti bangkit lagi anakku. Papa juga ingin kamu mendapatkan pendidikan yang sama baiknya yang pernah papa rasakan dulu. Pilihannya berhasil atau berhasil.

Fakir Miskin

Rabu, 2 Juni 2010, 19:02
Lantai 53

Ada suatu pandangan yang mengusikku di siang tadi saat aku dan kedua temanku berjalan menuju rumah makan padang. Seorang perempuan berusia kurang lebih akhir 50-an sedang duduk di trotoar dan tampak mengusap mata dengan kain lusuh.

Apa yang terjadi denganya? Dalam benakku sang perempuan ini sedang dalam keadaan tertekan. Tapi tertekan karena apa? Karena kondisi dirinya kah atau karena tidak ada yang memberikannya uang?

Kubawa pikiranku dengan berdiam diri saat aku berjalan di depan kedua temanku yang entah sedang asik berdiskusi apa.

Sepanjang kiri jalan para karyawan sudah menempati bangku-bangku tempat makan di pinggir jalan dan ada beberapa pengemis dan pengamen yang sedang melakukan kegiatannya.

Hanya satu yang kupikirkan. Apa yang dirasakan para pengemis saat mereka melihat kami, para karyawan, sedang menikmati makan siang kami? Iri? Pedih? Sedih? Marah? Apakah itu yang dirasakan oleh perempuan tadi?

Entahlah dan aku berniat akan berbuat sesuatu saat aku balik ke kantor setelah makan siang dan itu sudah kulaksanakan. Meski bukan segitu yang kuinginkan. Aku harap aku bisa melakukan sesuatu yang lebih kepadanya di kemudian hari. Asalkan rasa malas dan jenuhku tidak kambuh seperti saat aku menulis catatan liar ini.

Jatuh

Rumah, 22 Mei 2010, 20:43

Apa yang saat ini kurasakan? Jenuh? Bingung? Kehilangan semangat? Kurasa semuanya.


Kurasa aku harus benar-benar komit dengan tujuanku. Bukan kurasa tapi keharusan yang mutlak. Lupakan segala syarat atau tepatnya alasan-alasan busuk.

Damn! Menulis saja aku tidak bisa. Aku butek.

Sialan!