Jakarta, 21 Jul 2010, 18:36
Kantor, 53
Ada kebiasaan baru di aku yang sepertinya sudah berlangsung sejak awal tahun ini. Lembur di kantor tapi bukan karena niat untuk lembur. Masih bingung? Aku akan coba cerita sedikit.
Pertama akan aku ceritakan bagaimana keadaan di rumah. Yah, sebenarnya, sih, belum bisa disebut rumah. Menurut pendapatku itu lebih tepat disebut kamar kos atau apartment tipe studio. Di lantai bawah berkumpul meja dapur, tanpa lemari dapur sehingga istriku meletakkan bumbu dapur dan plastik pembungkus dibawahnya, satu buah kulkas, satu piano kecil, satu aquarium kecil, meja komputer desktop dan komputernya dan disampingnya ada printer Epson kecil dan scanner, lalu ada TV tabung kaca 29 inch yang diletakkan diatas box kayu, lemari pakaian besar dan satu lemari buku kesar, dan disana sini ada beberaa tumpukan mainan anak gadis kecilku dan yang terakhir adalah kamar mandi plus WC. Terbayang suasana kos, bukan? Semua tumplek menjadi satu.
Sedangkan dilantai atas adalah kamar tidur, tapi di pojok ada dua lemari pakaian kecil yang diatasnya ada tumpukan dus yang berisikan pakaian, didekat TV 14 inch yang diletakkan diatas meja ada meja belajar yang diatasnya ada tumpukan dus kamera SLR, notebook dan tas ransel, lalu ada kursi sofa kecil, satu buah springbed ukuran 1.8 x 1.6 meter tanpa base dan satu buah tempat tidur ukuran 1.8 x 1 m. Yah, aku sadar juga jika kamar tidur kami bertiga juga tidak jauh berbeda suasananya dengan yang dilantai bawah. Kos.
Rumah yang kami tempati ini dahulunya adalah paviliun saat aku masih bujangan dan aku sudah menempatinya selama 13 tahun. Saat itu belum ada meja dapur. Dan saat itu aku bisa menikmati kesendirianku. Aku suka termenung. Bukan melamun, tapi kadang aku butuh sendiri untuk berpikir. Jika saat bujangan aku berpikir soal kenapa aku bisa hancur hubunganku dengan si 'dia', sedangkan saat ini aku kadang ingin sendiri untuk memikirkan masa depan kami bertiga.
Bukannya aku tidak sayang dengan mereka. Aku sayang sekali, tapi jika aku langsung pulang ke rumah setelah jam kantor usai aku tidak bisa berpikir atau merencanakan langkah apa selanjutnya, bahkan aku sama sekali tidak bisa bekerja jika sudah di rumah.
Tahu sendiri, kan, hari gini jika masih mengandalkan gaji kantor dan tidak mempersiapkan dana untuk masa pensiun sama saja dengan bunuh diri di kemudian hari.
Jadi ceritanya aku sudah ada usaha. Tapi namanya juga usaha mandiri, ya, aku harus kudu musti melakukannya dengan niat yang kuat. Dan itu saja tidak cukup tentunya.
Di lantai 53 ini aku suka suasananya jika sudah jam pulang kantor seperti ini apalagi setelah jam 6 sore. Sepi. Tenang. Membuatku bisa berpikir tenang untuk melakukan rencana ke depan. Apa goal-ku untuk minggu depan. Bertemu dengan siapa saja dalam seminggu kedepan atau merencakakan untuk melakukan pembelian barang apa saja.
Jika di rumah? Aku akan tergoda untuk bermain dengan anakku atau malah yang terparah dan paling sering aku lakukan adalah aku malah melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, yaitu nonton TV atau DVD atau malah tidur.
Jadi aku bisa klaim lemburan padahal aku tidak mengerjakan urusan kantor? Tidak juga. Di posisiku yang sekarang aku tidak bisa mendapatkan uang lembur lagi dan lagipula aku masih mengerjakan urusan kantorku saat ini. Ya, maksudku, sampai sebelum aku menulis tulisan ini.
Sebenarnya aku sedang jenuh dan aku tidak ingin langsung pulang ke rumah. Sebab di rumah tidak ada tempat yang bisa aku jadikan tempatku untuk termenung. Semua tempat terbuka di rumahku, hanya kamar mandi saya yang ada pintunya. Apa aku harus termenung di dalam sana?
Setelah jam pulang kantor tadi aku sempat memainkan beberapa kali video klip Mocca, Hanya Satu, original sound track Untuk Rena. Aku jadi teringat gadis kecilku yang senguin kolerik. Kemarin dia dengan koleriknya memaksa untuk makan kripik singkong pedas dan es krim dan tadi pagi baru kami sadari bahwa beliau ini demam. Ternyata kena diare. Tadi sudah diantar ke dokter oleh mamanya dan menurut istriku si Nola Nola sudah berkurang demamnya. Alhamdullilah.
Aku pasti bangkit lagi anakku. Papa juga ingin kamu mendapatkan pendidikan yang sama baiknya yang pernah papa rasakan dulu. Pilihannya berhasil atau berhasil.