Selasa, 27 Juli 2010

Lembur??

Jakarta, 21 Jul 2010, 18:36

Kantor, 53

Ada kebiasaan baru di aku yang sepertinya sudah berlangsung sejak awal tahun ini. Lembur di kantor tapi bukan karena niat untuk lembur. Masih bingung? Aku akan coba cerita sedikit.

Pertama akan aku ceritakan bagaimana keadaan di rumah. Yah, sebenarnya, sih, belum bisa disebut rumah. Menurut pendapatku itu lebih tepat disebut kamar kos atau apartment tipe studio. Di lantai bawah berkumpul meja dapur, tanpa lemari dapur sehingga istriku meletakkan bumbu dapur dan plastik pembungkus dibawahnya, satu buah kulkas, satu piano kecil, satu aquarium kecil, meja komputer desktop dan komputernya dan disampingnya ada printer Epson kecil dan scanner, lalu ada TV tabung kaca 29 inch yang diletakkan diatas box kayu, lemari pakaian besar dan satu lemari buku kesar, dan disana sini ada beberaa tumpukan mainan anak gadis kecilku dan yang terakhir adalah kamar mandi plus WC. Terbayang suasana kos, bukan? Semua tumplek menjadi satu.

Sedangkan dilantai atas adalah kamar tidur, tapi di pojok ada dua lemari pakaian kecil yang diatasnya ada tumpukan dus yang berisikan pakaian, didekat TV 14 inch yang diletakkan diatas meja ada meja belajar yang diatasnya ada tumpukan dus kamera SLR, notebook dan tas ransel, lalu ada kursi sofa kecil, satu buah springbed ukuran 1.8 x 1.6 meter tanpa base dan satu buah tempat tidur ukuran 1.8 x 1 m. Yah, aku sadar juga jika kamar tidur kami bertiga juga tidak jauh berbeda suasananya dengan yang dilantai bawah. Kos.

Rumah yang kami tempati ini dahulunya adalah paviliun saat aku masih bujangan dan aku sudah menempatinya selama 13 tahun. Saat itu belum ada meja dapur. Dan saat itu aku bisa menikmati kesendirianku. Aku suka termenung. Bukan melamun, tapi kadang aku butuh sendiri untuk berpikir. Jika saat bujangan aku berpikir soal kenapa aku bisa hancur hubunganku dengan si 'dia', sedangkan saat ini aku kadang ingin sendiri untuk memikirkan masa depan kami bertiga.

Bukannya aku tidak sayang dengan mereka. Aku sayang sekali, tapi jika aku langsung pulang ke rumah setelah jam kantor usai aku tidak bisa berpikir atau merencanakan langkah apa selanjutnya, bahkan aku sama sekali tidak bisa bekerja jika sudah di rumah.

Tahu sendiri, kan, hari gini jika masih mengandalkan gaji kantor dan tidak mempersiapkan dana untuk masa pensiun sama saja dengan bunuh diri di kemudian hari.

Jadi ceritanya aku sudah ada usaha. Tapi namanya juga usaha mandiri, ya, aku harus kudu musti melakukannya dengan niat yang kuat. Dan itu saja tidak cukup tentunya.

Di lantai 53 ini aku suka suasananya jika sudah jam pulang kantor seperti ini apalagi setelah jam 6 sore. Sepi. Tenang. Membuatku bisa berpikir tenang untuk melakukan rencana ke depan. Apa goal-ku untuk minggu depan. Bertemu dengan siapa saja dalam seminggu kedepan atau merencakakan untuk melakukan pembelian barang apa saja.

Jika di rumah? Aku akan tergoda untuk bermain dengan anakku atau malah yang terparah dan paling sering aku lakukan adalah aku malah melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, yaitu nonton TV atau DVD atau malah tidur.

Jadi aku bisa klaim lemburan padahal aku tidak mengerjakan urusan kantor? Tidak juga. Di posisiku yang sekarang aku tidak bisa mendapatkan uang lembur lagi dan lagipula aku masih mengerjakan urusan kantorku saat ini. Ya, maksudku, sampai sebelum aku menulis tulisan ini.

Sebenarnya aku sedang jenuh dan aku tidak ingin langsung pulang ke rumah. Sebab di rumah tidak ada tempat yang bisa aku jadikan tempatku untuk termenung. Semua tempat terbuka di rumahku, hanya kamar mandi saya yang ada pintunya. Apa aku harus termenung di dalam sana?

Setelah jam pulang kantor tadi aku sempat memainkan beberapa kali video klip Mocca, Hanya Satu, original sound track Untuk Rena. Aku jadi teringat gadis kecilku yang senguin kolerik. Kemarin dia dengan koleriknya memaksa untuk makan kripik singkong pedas dan es krim dan tadi pagi baru kami sadari bahwa beliau ini demam. Ternyata kena diare. Tadi sudah diantar ke dokter oleh mamanya dan menurut istriku si Nola Nola sudah berkurang demamnya. Alhamdullilah.

Aku pasti bangkit lagi anakku. Papa juga ingin kamu mendapatkan pendidikan yang sama baiknya yang pernah papa rasakan dulu. Pilihannya berhasil atau berhasil.

Fakir Miskin

Rabu, 2 Juni 2010, 19:02
Lantai 53

Ada suatu pandangan yang mengusikku di siang tadi saat aku dan kedua temanku berjalan menuju rumah makan padang. Seorang perempuan berusia kurang lebih akhir 50-an sedang duduk di trotoar dan tampak mengusap mata dengan kain lusuh.

Apa yang terjadi denganya? Dalam benakku sang perempuan ini sedang dalam keadaan tertekan. Tapi tertekan karena apa? Karena kondisi dirinya kah atau karena tidak ada yang memberikannya uang?

Kubawa pikiranku dengan berdiam diri saat aku berjalan di depan kedua temanku yang entah sedang asik berdiskusi apa.

Sepanjang kiri jalan para karyawan sudah menempati bangku-bangku tempat makan di pinggir jalan dan ada beberapa pengemis dan pengamen yang sedang melakukan kegiatannya.

Hanya satu yang kupikirkan. Apa yang dirasakan para pengemis saat mereka melihat kami, para karyawan, sedang menikmati makan siang kami? Iri? Pedih? Sedih? Marah? Apakah itu yang dirasakan oleh perempuan tadi?

Entahlah dan aku berniat akan berbuat sesuatu saat aku balik ke kantor setelah makan siang dan itu sudah kulaksanakan. Meski bukan segitu yang kuinginkan. Aku harap aku bisa melakukan sesuatu yang lebih kepadanya di kemudian hari. Asalkan rasa malas dan jenuhku tidak kambuh seperti saat aku menulis catatan liar ini.

Jatuh

Rumah, 22 Mei 2010, 20:43

Apa yang saat ini kurasakan? Jenuh? Bingung? Kehilangan semangat? Kurasa semuanya.


Kurasa aku harus benar-benar komit dengan tujuanku. Bukan kurasa tapi keharusan yang mutlak. Lupakan segala syarat atau tepatnya alasan-alasan busuk.

Damn! Menulis saja aku tidak bisa. Aku butek.

Sialan!

Anak-anak

Maret 2010

Pagi itu seperti biasa aku melewati depan Mesjid Sunda Kelapa, Menteng, dan aku sudah melihat seorang wanita berumur 40-an sedang menadahkan tangannya ke jendela mobil yang ada di depanku saat lampu merah sedang menyala.


Pemandangan itu sudah biasa buat kita semua termasuk juga aku, tapi ada suatu pemandangan yang membuatku miris. Seorang anak perempuan sedang tertidur cukup pulas di atas trotoar dimana tadi sang perempuan tua itu beranjak. Umur anak itu tidak lebih dari 4 tahun. Bertubuh kurus dan berkulit coklat terbakar matahari. Aku lupa warna baju ataupun roknya, tapi aku ingat wajahnya yang terlihat polos, wajah seorang mahluk ciptaan Alloh yang belum tahu bahwa tidur di trotoar itu berbahaya dan tidak bersih. Begitu polos seorang wajah anak perempuan yang masih aku perhatikan punggungnya dari bayangan di kaca spion motor hijauku saat aku menunggu si merah berubah menjadi hijau.

Seorang anak laki-laki yang berusia kurang lebih sama dengan si anak perempuan itu berbaring di sebelah dan memperhatikan wajahnya. Aku masih memperhatikan mereka sampai akhirnya si hijau menyala.

Apa yang dilihat dari anak laki itu ke temannya ataukan adiknya yang sedang tidur di trotoar itu? Apakah mereka hanya mengenal bahawa mereka harus mengikuti kegiatan orang tuanya atau entah siapa perempauan tua itu hubungannya dengan mereka, untuk meminta-minta di lampu merah itu.

Seharusnya mereka bersekolah. Belajar.

Apa yang dapat kau lakukan untuk mereka, Ben?

Siang tadi saat aku sedang berada di tengah-tengah belantara baja beroda empat di daerah S. Parman aku melihat seorang ibu yang membonceng sepeda motor dan aku perhatikan ada kaki-kaki kecil dengan celana pendek putih yang terlihat dari balik perut ibu itu. Satu motor ditumpangi bertiga, seorang bapak, seorang ibu dan seorang anak laki-laki diapit mereka. Kasihan anak itu. Berada di bawah sinar matahari Jakarta yang terik di siang itu.

Kemudian terjadilah sesuatu yang membuatku makin iba dengan anak itu. Tiba-tiba tangan ibu itu menepiskan butiran-butiran nasi yang berlumur cairan bening ke jalan. Anak itu muntah!

Ya, Alloh.

Kuarahkan motorku ke samping mereka dan aku melihat mata lesu anak laki-laki itu. Sinar terik matahari Jakarta di siang itu benar-benar tidak bersahabat dengan anak itu.

Andaikan....yah, andaikan saja, kan, Ben?

Apa yang dapat kau lakukan untuk anak itu, Ben?

Makanan Batin

baru kemarin aku menonton kembali film princess's diaries. Disitu anne hathaway masih kelihatan segar tidak seperti saat dia main di the devil wears prada (mudah2an judulnya bener). Tapi bukan untuk membicarakan pemain utamanya tujuan aku menulis.

aku menulis karena ada kalimat yang diucapakan sang princess di ujung film, dimana dia berkata bahwa jika kita selalu berpikir tentang 'aku' saja, maka kita akan merasa bahwa dunia ini tidak memihak pada kita. tapi jika kita berpikir bagaimana untuk selalu berbuat baik kepada orang lain yang hidup di dunia, maka kita akan merasa lebih baik.

intinya, sih, bahwa tangan di atas selalu memberikan kebaikan kepada dua pihak, baik ke si pemberi maupun yang menerima. bahkan secara psikologis itu memberikan makanan batin yang sangat indah.

lebaran sebentar lagi.
aku kembali terhenyak dengan kenyataan bahwa aku masih pribadi yang sama dengan tahun lalu. aku yang tahun ini tidak lebih baik dengan aku yang tahun lalu. aku sadar jika aku harus berubah, aku harus mendekatkan diri lagi dengan Alloh dan kembali membaca kitab suci-Nya.
Bahkan sepertinya aku di ramadhan ini lebih buruk. aku merasa kurang memberi. hak-hak anak yatim dan fakir miskin belum sepenuhnya aku berikan.

dan satu lagi, aku masih kehilangan keberanian.
aku terlena oleh rasa 'fed up' ku.

saat aku berangkat tadi pagi, aku melihat pasanganku berjalan sambil menenteng barang belanjaan dari pasar. ada rasa rindu. rindu yang dulu pernah aku impikan dan pernah aku rasakan.

aku adalah seorang insan yang hidup didunia, yang punya hak dan kewajiban terhadap yang Kuasa, orang tua, keluarga dan keluarga besar dan bahkan terhadap bangsa dan negara, bahkan kepada diriku sendiri.

so?
aku harus kembali mendekatkan diri dan menjadi core kembali................

You've Got Mail

sudah nonton you've got mail? masih ingat dimana meg ryan dengan pengharapannya yang begitu besar saat menunggu orang yang 'klik' banget dengannya di suatu cafe? saat itu meg ryan membuat janji untuk bertemu dengan teman chatting-nya, diperankan oleh tom hanks. Meski akhirnya yang dia harapkan 'tidak datang' tapi si meg tetap berharap. bahkan mempertahankan kursi kosong di depannya agar tidak diambil pengunjung cafe lain. adegan dia saat mempertahanan kursi kosong untuk sang teman chatting-nya itu bikin g teringat masa lalu.

intinya adalah kita bertahan hidup karena ada suatu pengharapan. suatu asa yang kita yakini. kita berjuang, kita bertahan, kita bergerak maju pantang mundur asalkan asa yang kita yakini itu tetap ada.

g ga tahu kenapa setelah sekian lama g menulis lagi. g rasa ada 2 alasan, satu g teringat masa lalu dan yang kedua adalah g harus mulai lagi melaksanakan impian g.

so? keep fight!

Keberanian

kantor, 3 agustus 09, 16:35 wib

aku pernah mendengar dari seseorang suatu statement yg sangat bagus.
'jika seseorang kehilangan harta maka ia akan kehilangan banyak'
'jika seseorang kehilangan teman maka dia akan kehilangan lebih banyak'
'tapi jika seseorang kehilangan keberanian maka dia akan kehilangan segalanya'
dan aku sudah kehilangan keberanianku selama 3 bulan terakhir ini. aku merasa sudah kehilangan banyak hal. momen. waktu. kesehatan. emosi. kepercayaan diri.

aku kehilangan keberanianku karena kemalasanku. aku terlena dengan statusku. aku terlena oleh kondisiku. aku terbius perangkap kenyamanan.
aku benci diriku karena itu.

impianku. orang tuaku. pasanganku. keluargaku. aku mengecewakan mereka. aku menyia-nyiakan waktu. sang waktu berpihak kepadaku di masa lalu tapi akankah berpihak kepadaku nanti?

louie carillo berkata : insan yang mempunyai impian tidak akan bisa tergoyahkan, tapi impian bisa tercapai jika kita mengerjakan dan berjuang secara terus menerus. tidak ada jalan instan.

hari ini, malam ini aku harus mulai bertemu dengan orang lagi. aku mulai untuk presentasi lagi. aku mulai membangun lagi. aku ingin memiliki kepercayaan diri lagi. punya suatu kebanggaan.

terima kasih, ya Alloh, karena telah mengirim banyak nyamuk yang mengganggu tidur malamku.
berikan aku waktu. aku tahu sudah menyia-nyiakannya, tapi beri aku kesempatan lagi. beri lagi aku kesehatan. beri aku kesempatan untuk selalu mengingat-Mu.

jadi? 40 per bulan sampai dengan akhir nopember 09? 30 STP per bulan?

......i was born to love you....by phil perry

Setelah 19 Tahun

kantor, 21 jul 09, 16:00 wib

apa yang terjadi setelah 19 tahun berlalu?
banyak!

tadi siang aku baru saja berbicara dengan salah seorang temanku saat dulu teman band di SMA. kalian tahu? dia masih bergelut di dunia musik, meski saat ini beliau hanya menjadi manajer band.

wow!
tidak pernah terpikir olehku setelah 19 tahun lewat seorang temanku masih bergelut di musik dan secara profesional pula. teman-temanku yang lain, dalam band yang sama, ada yang mempunyai usaha travel, ada yang usaha kos, bekerja di bank asing, artis sinetron dan iklan dan seorang arsitek seperti diriku.

aku masih mengatur kapan aku bisa bertemu dengannya karena beliau ini sedang ada acara manggung. jika aku nanti bisa bertemu aku ingin mendengar ceritanya bagaimana beliau masih tetap setia di jalur bisnis musik dan aku tidak sabar lagi mendengar ceritanya.

Tingkat Kebahagiaan

Minggu, 19 Jul 09, 11:03 wib

Adakah yang namanya tingkat kebahagiaan?

Aku baru menghadiri suatu akad nikah di mesjid di dekat tinggalku. Dengan hanya berpakaian celana jeans dan kaos ditambah kopiah, biar menyamarkan cara berpakaianku, aku menyaksikan suatu peristiwa yang sakral dalam kehidupan umat manusia. Dua insan yang disatukan dalam suatu ikatan perkawinan, baik secara agama maupun hukum.

Sebenarnya, sih, aku tertarik datang karena mendengar suara rebana. Sudah lama aku tidak mendengar dan melihat rombongan calon pengantin diiringi rebana. Aku ingin mengabadikannya dengan D90.

Tetapi kenyataan didalamlah yang lebih menarik. Sang pengantin perempuan adalah tetanggaku, seorang single mother dengan 2 orang anak yang sudah remaja. Usianya kurang lebih awal 40-an. Aku tidak punya bayangan seperti apa si pengantin pria. Kupikir paling usianya sebaya, tapi kenyataan yang kulihat saat aku melihat rombongan pengantin pria datang cukup membuatku surprise. Sang pria berusia paling tidak sudah 55 tahun. Seorang pria kurus tinggi berkulit coklat dan terlihat nervous. Jika pria ini pernah menikah pasti sudah lebih dari 20 tahun yang lalu jadi wajar jika beliau nervous.

Yang ada dalam pikiranku adalah atas dasar apakah mereka menikah? Cinta? Kecocokan? Atau ibadah? Atau untuk anak-anak mereka? Akankah mereka memiliki hubungan suami istri yang seheboh pasangan yang lebih muda? Kebahagiaan seperti apa yang mereka cari?

Setiap orang dikehidupannya pasti harus selalu mengambil keputusan bukan? Mau makan apa? Ingin ke kantor naik apa? Lewat mana? Pilih rumah sakit yang mana?

Menjatuhkan pilihan pasangan hidup untuk kedua kali dimana anak-anak sudah menjelang dewasa pasti sudah mempertimbangkan dengan memikirkan dari segala aspek. Aku masih heran apa yang menjadi pertimbangan mereka apalagi dengan si pengantin perempuan.

Ada suatu kalimat yang diucapkan sesorang, bahwa jika perempuan sudah mempunyai anak yang sudah besar maka sex menjadi urusan nomor sekian. Benarkah? Jika itu benar apakah juga berlaku pada kaum pria?

Aku anggap saja itu benar, maka kebahagiaan apakah yang mereka cari? Memiliki pasangan hidup dimana bisa berbagi suka dan duka bahkan berbagi kasih sayang adalah impian, hampir, semua insan di dunia. Benar, kan? Jadi aku bisa saja mengambil kesimpulan bahwa mereka mencari kebahagiaan pada level yang lebih tinggi lagi dimana level itu tingkat emosi dan perilaku dari insan-insan tersebut lebih stabil, terkontrol dan dewasa.

Jadi?

Aku akan ganti pakaian yang lebih rapi dan datang ke rumah mereka untuk mengucapkan selamat dan ..... makan gratis!

Salam.

Sengaja

pernahkah kita berhenti sejenak dr segala kesibukan kita dan bertanya :
"apa tujuan kita hidup di dunia ini?"
"mencari kebahagiaan? kebahagiaan apa? materi? spriritual? kehidupan sosial? kedudukan? sex?"
"sendiri? bersama org yg kita kasihi? siapakah org itu?"

pernah mendengar pepatah atau org sering bilang : hidup saja mengikuti arus sungai yng mengalir.
bukankah itu spt org yang tanpa tujuan?

kemudian aku bertanya ke diriku sendiri : untuk apa aku bekerja? untuk siapa? dirikukah? orang tuakukah? kekasihkukah? anakkukah? anak2 yatim? janda2 yang bekerja keras di pasar dan jalan?

STOP!
aku pikir aku belum sejauh itu memikirkannya. anak yatim? janda2 yang bekerja keras utk hidupnya?
hah! bahkan untuk orang tua-ku pun sendiri kadang aku tidak sempat menanyakan kesehatan mereka.

jadi apa yg kucari di dunia ini?
aku putuskan untuk mencari kebahagiaan dunia dan juga sekaligus akhirat.
benarkah?
ya, benar! aku ingin menjadi org yg sukses di dunia ini! sukses dunia dan akhirat!
serius?
iya, serius! lihat saja aku bekerja dari senin hingga jum'at, bahkan jika ada proyek aku bisa pulang sampai larut malam.
iya, sih. jadi kamu bekerja untuk siapa?
itu dia pertanyaan yg bagus sekali dan aku mesti menjawab dengan jujur bukan?

sejujurnya aku sdh ada tujuan hidup, ya, itu mencari kebahagiaan dunia dan akhirat. lebih detil lagi aku ingin membahagiakan orang tuaku mumpung mereka masih hidup atau aku masih hidup. aku ingin membalas budi meski hanya 0.000000001% saja.

manusia selalu dihadapkan pada keputusan2 kecil yg harus diambil. sarapan apa hari ini? memakai pakaian yg mana hari ini? berangkat jam brp ke kantor? rute mana yang akan di pilih ke kantor? apakah ambil joki 3in1 atau lewat jalan alternatif? pakai minyak rambut atau cukup hanya membasahi saja?

aku sdh diajarkan bagaimana menentukan tujuanku yg besar dulu. tujuan yg sifatnya sgt tergantung oleh sang waktu. jk aku sudah memilih aku mulai menentukan apa yg akan aku lakukan untuk membuat tujuanku itu tercapai (misi?). rencana suidah ada dan yg perlu aku lakukan sekarang adalah ACTION!

sejak 10 tahun yg lalu aku belajar bahwa kesuksesan itu perlu diperjuangkan dengan SENGAJA! ya, dng sengaja. hubungan dengan pasangan akan sukses jk kedua belah pihak berusaha untuk mempertahankan. bukan begitu, Asa?

begitupun jika kita ingin meraih kesuksesan di karir kita jg harus dilakukan dengan perjuangan yg SENGAJA. sebutkan saja dibidang apapun kita harus dengan sengaja berusaha. miskin, kehancuran, keruntuhan, dll...sebut saja kemerosotan akan dengan sendirinya secara alami terjadi.

jadi...TUJUAN sudah ada...PLAN sudah ada....tinggal ACTION....mudah sebenarnya, tp tidk menjadi mudah jk dilakukan oleh manusia dng pikirannya yg kompleks dan PEMALAS....spt aku!

aku menjadi pemalas beberapa bulan ini dan aku kehilangan PASSION....terhadap tujuan-ku. ini membuatku jd FED UP!
ingin aku menelpon christine atau yani dan ..... tahulah....tp yg paling aku benci adalah setelahnya....aku pasti MENYESAL....

sukses harus dng sengaja....ACTION....lead to GOAL.....lead to....DREAMS!...yes, i know that....
i just hope that i won't do anything stupid for the next 3 days!