Selasa, 27 Juli 2010

Anak-anak

Maret 2010

Pagi itu seperti biasa aku melewati depan Mesjid Sunda Kelapa, Menteng, dan aku sudah melihat seorang wanita berumur 40-an sedang menadahkan tangannya ke jendela mobil yang ada di depanku saat lampu merah sedang menyala.


Pemandangan itu sudah biasa buat kita semua termasuk juga aku, tapi ada suatu pemandangan yang membuatku miris. Seorang anak perempuan sedang tertidur cukup pulas di atas trotoar dimana tadi sang perempuan tua itu beranjak. Umur anak itu tidak lebih dari 4 tahun. Bertubuh kurus dan berkulit coklat terbakar matahari. Aku lupa warna baju ataupun roknya, tapi aku ingat wajahnya yang terlihat polos, wajah seorang mahluk ciptaan Alloh yang belum tahu bahwa tidur di trotoar itu berbahaya dan tidak bersih. Begitu polos seorang wajah anak perempuan yang masih aku perhatikan punggungnya dari bayangan di kaca spion motor hijauku saat aku menunggu si merah berubah menjadi hijau.

Seorang anak laki-laki yang berusia kurang lebih sama dengan si anak perempuan itu berbaring di sebelah dan memperhatikan wajahnya. Aku masih memperhatikan mereka sampai akhirnya si hijau menyala.

Apa yang dilihat dari anak laki itu ke temannya ataukan adiknya yang sedang tidur di trotoar itu? Apakah mereka hanya mengenal bahawa mereka harus mengikuti kegiatan orang tuanya atau entah siapa perempauan tua itu hubungannya dengan mereka, untuk meminta-minta di lampu merah itu.

Seharusnya mereka bersekolah. Belajar.

Apa yang dapat kau lakukan untuk mereka, Ben?

Siang tadi saat aku sedang berada di tengah-tengah belantara baja beroda empat di daerah S. Parman aku melihat seorang ibu yang membonceng sepeda motor dan aku perhatikan ada kaki-kaki kecil dengan celana pendek putih yang terlihat dari balik perut ibu itu. Satu motor ditumpangi bertiga, seorang bapak, seorang ibu dan seorang anak laki-laki diapit mereka. Kasihan anak itu. Berada di bawah sinar matahari Jakarta yang terik di siang itu.

Kemudian terjadilah sesuatu yang membuatku makin iba dengan anak itu. Tiba-tiba tangan ibu itu menepiskan butiran-butiran nasi yang berlumur cairan bening ke jalan. Anak itu muntah!

Ya, Alloh.

Kuarahkan motorku ke samping mereka dan aku melihat mata lesu anak laki-laki itu. Sinar terik matahari Jakarta di siang itu benar-benar tidak bersahabat dengan anak itu.

Andaikan....yah, andaikan saja, kan, Ben?

Apa yang dapat kau lakukan untuk anak itu, Ben?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar