Selasa, 27 Juli 2010

Tingkat Kebahagiaan

Minggu, 19 Jul 09, 11:03 wib

Adakah yang namanya tingkat kebahagiaan?

Aku baru menghadiri suatu akad nikah di mesjid di dekat tinggalku. Dengan hanya berpakaian celana jeans dan kaos ditambah kopiah, biar menyamarkan cara berpakaianku, aku menyaksikan suatu peristiwa yang sakral dalam kehidupan umat manusia. Dua insan yang disatukan dalam suatu ikatan perkawinan, baik secara agama maupun hukum.

Sebenarnya, sih, aku tertarik datang karena mendengar suara rebana. Sudah lama aku tidak mendengar dan melihat rombongan calon pengantin diiringi rebana. Aku ingin mengabadikannya dengan D90.

Tetapi kenyataan didalamlah yang lebih menarik. Sang pengantin perempuan adalah tetanggaku, seorang single mother dengan 2 orang anak yang sudah remaja. Usianya kurang lebih awal 40-an. Aku tidak punya bayangan seperti apa si pengantin pria. Kupikir paling usianya sebaya, tapi kenyataan yang kulihat saat aku melihat rombongan pengantin pria datang cukup membuatku surprise. Sang pria berusia paling tidak sudah 55 tahun. Seorang pria kurus tinggi berkulit coklat dan terlihat nervous. Jika pria ini pernah menikah pasti sudah lebih dari 20 tahun yang lalu jadi wajar jika beliau nervous.

Yang ada dalam pikiranku adalah atas dasar apakah mereka menikah? Cinta? Kecocokan? Atau ibadah? Atau untuk anak-anak mereka? Akankah mereka memiliki hubungan suami istri yang seheboh pasangan yang lebih muda? Kebahagiaan seperti apa yang mereka cari?

Setiap orang dikehidupannya pasti harus selalu mengambil keputusan bukan? Mau makan apa? Ingin ke kantor naik apa? Lewat mana? Pilih rumah sakit yang mana?

Menjatuhkan pilihan pasangan hidup untuk kedua kali dimana anak-anak sudah menjelang dewasa pasti sudah mempertimbangkan dengan memikirkan dari segala aspek. Aku masih heran apa yang menjadi pertimbangan mereka apalagi dengan si pengantin perempuan.

Ada suatu kalimat yang diucapkan sesorang, bahwa jika perempuan sudah mempunyai anak yang sudah besar maka sex menjadi urusan nomor sekian. Benarkah? Jika itu benar apakah juga berlaku pada kaum pria?

Aku anggap saja itu benar, maka kebahagiaan apakah yang mereka cari? Memiliki pasangan hidup dimana bisa berbagi suka dan duka bahkan berbagi kasih sayang adalah impian, hampir, semua insan di dunia. Benar, kan? Jadi aku bisa saja mengambil kesimpulan bahwa mereka mencari kebahagiaan pada level yang lebih tinggi lagi dimana level itu tingkat emosi dan perilaku dari insan-insan tersebut lebih stabil, terkontrol dan dewasa.

Jadi?

Aku akan ganti pakaian yang lebih rapi dan datang ke rumah mereka untuk mengucapkan selamat dan ..... makan gratis!

Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar